Sejarah Perang Kamang 15 Juni 1908 (2)



Dalam suasana yang begitu rupa datang pula keadaan yang menggemparkan rakyat yaitu Pemerintah Hindia Belanda tahun 1908 hendak memasukkan Belasting yang dinamai pajak/Fa’al (pajak perbuatan).

Dikala itu Pemerintahan Luhak Agam dikepalai oleh seorang Asisten Residen (Tuangku Luhak) yang bernama C.A. James dan controliur (Komendur) yang bernama J. Westank, Tuangku Luhak ini orang keras tindakannya dan komendur itu orang yang pintar/bijak berbahasa Minangkabau dan mengerti seluk beluk adat Minangkabau.

Luhak Agam terdiri dari 13 Keelarasan, masing-masing diperintahi oleh seorang yang berpangkat Tuangku Laras.
Pada Tanggal 11 maret 1908 segala Tuangku laras itu dipanggil rapat ke kantor Agam di Bukittinggi, dalam rapat itu diterangkan oleh Tuangku Luhak C.A. James dan Komendur J.Westanik, bahwa Pemerintah Hindia Belanda hendak memasukkan Belasting.
Masing-masing Rakyat laki-laki yang termasuk orang kuat  wajib membayar  f.120 ( 1 rupiah 20 sen) dama setahun, belasting itu adalah pengganti tanaman kopi dan rakyat tidak lagi dibebani dengan dengan tanaman paksa.

Kalau dinilai secara materil uang f.120 itu nampaknya ringan, tetapi secara moril nyatalah uang itu seolah-olah membayar upeti, untuk mengisi ketundukan pada pemerintah Belanda, apalagi rakyat sedang dibebani dengan berbagai kerja sepanjang tahun.
Tuangku laras yang hadir, sependapat bahwa dengan masukknya  belasting itu akan menambah beban rakyat dan akan bertambah tertindasnya rakyat, dalam perasaan yang demikian itu dikemukakan mula-mula oleh Tuangku Laras Sungai Puar dan lain-lain.
Lantaran itu suasana rapat menjadi tegang, akhirnya tuangku laras tersebut berjanji akan membawa perhitungan itu ke negerinya masing-masing, berembuk dengan ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai.
Kesudahannya rapat itu bubar, masing-masing pulag dengan rasa tidak puas dengan keadaan seperti itu  sama di seluruh Minangkabau.

Rakyat enggan membayar Belasting, dimana mana terjadi gerakan yang menimbulkan organisasi perlawanan menuju aksi massa pemberontakan.

Bersambung...