Sejarah Perang Kamang, 15 Juni 1908 (1)



Bila kita menggali sejarah perlawanan rakyat Sumatera barat menentang kolonialis belanda , Niscaya bertemulah kita dengan peristiwa besar seperti Perang Kamang tahun 1908, suasana yang demikian seirama dengan zaman kebangkitan nasional seluruh Indonesia, dengan lahinya Budi Utomo pada tanggal 20 Oktober 1908 yang dipimpin oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo.

Dikala itu Pemerintahan Belanda yang bernama Nederlanch Indie (Hindia Belanda) sedang menghadapi situasi yang gawat, sehubungan dengan di eropa , baru menghadapi Revolusi Industri dan berkembangnya kapitalisme dan imperialisme menyebabkan nafsu angkara murka bagi bangsa penjajah berebut rebut memperluas jajahannya.

Sebelumnya sudah ada Kultur Stelsel (tanam paksa) menyuru rakyat bertanam kopi, pala, cengkeh, merica, nila(tarum) dan lain-lain.

Di Minangkabau rakyat diwajibkan bertanam kopi 500 batang tiap jiwa orang kuat, pada kebun kolektif di Kamang, berkelompok-kelompok menurut negerinya masing-masing
Hasil Kopi itu dijual secara monopoli kepada Belanda. Untuk negeri keselarasan Kamang Magek dan Tilatang, Bungo Koto Tuo dan Kapau diadakan gudang Kopi di Magek yang dikepalai oleh seorang yang berpangkat Pakuis (Pakus).

Kesanalah dijual segala hasil kopi dengan harga 8 sen tiap satu pon ( 16 sen per kg) sedangkan Belanda menjual dengan harga sangat mahal di Eropa.
Dalam pada itu raktar dibebani dengan Here Diost (kerja Paksa) atau rodi, membuat jalan-jalan selama 36 hari dalam 1 tahun, ditambah lagi dengan perintah jagogadang ke Bukittinggi selama 8 hari dan jagonagari ke rumah-rumah tuangku laras dan kerumah kepala nagari dan kerumah angku suku.

Tuangku Laras mendapat 5 orang jaga, disana mereka bekerja untuk keperluan pribadi dari yang berkepentingan, semuanya membawa bekal untuk makan dan minum dan perbelanjaan selama disana.

Dengan demikian nyatalah bahwa beban rakyat sangat berat, sehingga kejengkelan-kejengkelan dan kegelisahan timbul di kalangan rakyat.

Bersambung …

Sejarah Perang Kamang (2)